SUARA PESANTREN | Bogor–“Ciawi buat berkah saja,” demikian pesan Drs Paisal Kamal kepada putranya KH. Chairuman Kamal, Lc., MA.
Ciawi, maksudnya adalah lembaga pendidikan Islam atau pesantren di bawah naungan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina yang berada di jalan Veteran Tapos, Ciawi Bogor.
Gagasan itu lahir dari seorang putra Betawi, Drs. H. Paisal Kamal. Sosok yang senang di jalur pendidikan ini kerap memberikan kursus keagamaan untuk orang dewasa di kediamannya di Cawang. Paisal juga pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) tanggal 28 Oktober 1969.
Kegiatan keagamaan bagi warga sekitar ini ternyata menjadi motivasi dirinya untuk membuka sebuah lembaga pendidikan Islam secara formal. Lalu ia mencari lahan untuk babat alas mendirikan lembaga pendidikan Islam.
Setelah mencari lahan di daerah adem, Sukabumi dan Bogor akhirnya Paisal menemukan lahan satu hektar di daerah Tapos, Ciawi Bogor. Tahun 1986, ia memulai pendidikannya dengan mendirikan Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.
“Cuma satu hektar. Dari jalan raya sampai masjid itu. Dari situ bismillah, tidak ada siapa-siapa yang dikenal dengan modal Bismillah, tekad orang dulu memang beda,” kisah putra Paisal, Ustadz Chairuman saat ditemui beberapa waktu lalu di kediamannya.

Di bawah Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina, keempat lembaga ini terus dibangun. Namun sayang, berjalan beberapa tahun lembaga TK tidak berjalan dan akhirnya dipindah ke daerah Cawang tahun 1990.
“Respon masyarakat terhadap ibtidayah, tsanawiyah, aliyah masih kurang. Madrasah masih menjadi pilihan terakhir karena masyarakat masih memandang sebelah mata tentang madrasah,” kisahnya.
Ketika lembaga yang didirikan ayahnya berjalan, Ustadz Chairuman sedang menikmati pendidikan di Pesantren Darunnajah dan melanjutkan ke Program S1, Fakultas Syari’ah Islamiyah, Universitas Al Azhar, Kairo Mesir dan melengkapi Program S2, Kajian Islam, Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tahun 1986 Merintis Pesantren
Tahun 1986 Fathan Mubina sudah membuka pondok pesantren bagi para siswa yang belajar di Tsanawiyah atau Aliyah, namun minat para orangtua untuk memondokkan putra putrinya masih kurang, sehingga masih sebatas santri kalong, datang siang malam pulang.
“Sedangkan yang diharapkan oleh pendiri adalah pondok pesantren seperti Darunnajah dan Gontor. Bismillah, pada saat itu, pada tahun 2001, kita harus mencoba untuk merintis pesantren,” katanya.
Akhirnya setelah tamat dari Kairo, Ustadz Chairuman fokus mengembangkan Fathan Mubina. Dalam masa perintisan Pesantren Fathan Mubina ini, ada dua tahapan, fase rintisan dan fase pendirian.
Mencari Santri ‘Buangan’ dari Pesantren Lain
Fase perintisan, mulai merintisnya bukan dari santri luar tapi dari siswa terbaik yang mau mondok. “Alhamdulillah, saat itu pada tahun 2002 ada 15 santri putra dan putri. Mereka sekolah di Tsanawiyah, tapi tinggal di asrama yang ada di rumah saya,” jelasnya.
Jalan untuk memajukan pesantren melalui titik terang ketika tahun 2003, ia bertemu dengan Ustadz Mustolah Maufur. “Awalnya kita minta santri ‘buangan’ untuk mondok di Fathan Mubina karena masyarakat sekitar masih ragu dengan pesantren karena jaraknya dekat. Kita nawarin lagi sangat sulit untuk mereka tinggal kesana karena orang tuanya tidak mau atau sebaliknya,” paparnya.
Langkah mencari santri ‘buangan’ ia jalani setelah ada pengumuman dari beberapa pesantren di sekitar Bogor yang santrinya tidak lulus. Akhirnya ia mendapat 3 santri dari ratusan anak yang tidak lulus seleksi di lemabaga lain. Saat itu, ia mendapat 9 santri itupun sebagian dari keponakannya. Akhirnya Fathan Mubina mendapat santri 4 putra dan 2 putri ditambah 3 santri dari Tsanawiyah yang awalnya 15 santri.
“Tahun pertama kami hanya mendapatkan 9 santri setelah berjuang mencari anak didik yang bisa mondok di pesantren full, tidak lagi jadi santri kalong,” paparnya.
Tahun kedua, Fathan Mubina mencari strategi lain untuk menyerap anak didiknya. Ia pun memasang pariwara di sebuah media Islam agar Fathan Mubina bisa dikenal. Alhasil, pada tahun kedua berhasil menjaring 70 santri.
Secara kelembagaan, para santri yang belajar masih dibawah lembaga Tsanawiyah, namun kelasnya sendiri tidak bercampur dengan Tsanawiyah yang muridnya dari luar pondok. “Tujuannya untuk membedakan biar tidak kagok. Pondok berarti SMP, tsanawiyah pulang-pergi,” ujarnya. Akhirnya tahun 2004 dan 2005 ijin pendirian SMP dan SMA keluar.
“Waktu itu kelas sudah ada. Bangunan sudah ada. Itu tidak ada orangnya. Jadi banyak kelas kosong karena tidak ada santrinya. Kalau sekarang, banyak santri yang tidak banyak kelasnya. Sekarang yang antum lihat itu karena barokah santri tolabul ilmi,” tuturnya.
Fathan Mubina Kian Maju dan Berkembang
Seiring perjalanan waktu, dengan mengedepankan kualitas pendidikannya, Fathan Mubina yang awalnya mencari santri mengalami kesulitan hingga meminta data santri yang tidak lulus di lembaga lain. Kini, Fathan Mubina justru kerap menolak santri karena kuotanya yang sudah terpenuhi. “Dulu, nyari 40 anak aja sulit. Sekarang, kita sampai nolak-nolak peserta didik karena tidak ketersediaan fasilitas. Alhamdulillah seperti itu karena keberkahan pondok,” paparnya.
Perkembangan Fathan Mubina cukup mendapatkan tempat di hati umat Islam. Sekarang jumlah total santri ada sekitar 750 santri putra dan putri. Para guru yang membimbing para santri ada yang lulusan Madinah, Mesir, Pakistan, perguruan tinggi di Indonesia, alumni Darunnajah, Gontor dan Darul Ilmi.
Kini, Pesantren Fathan Mubina telah berhasil meluaskan lahan didiknya. Jika diawal hanya 1 hektar, kini sudah ada lahan 8 hektar lebih untuk pengembangan infrastruktur pondok. Banyak gedung sekolah yang dalam proses pembangunan.
“Saya bilang daerah sini, adalah mutiara yang baru diketemukan karena sebelumnya orang lewat sini, takut. Pas kita babad jalan, ternyata, baru tau kalau wilayah sini indah. Saya bersyukur banget,” ujarnya.
Petikan sang pendiri bahwa “Ciawi buat berkah saja” diterjemahkan oleh sang putra bahwa pendidikan Fathan Mubina harus memberikan banyak keberkahan bagi sekelilingnya. Hal ini diwujudkan dengan pemberian beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu.
Dari jumalh santri sebanyak 750 santri, Fathan Mubina memberikan pendidikan gratis kepada 100 santrinya. Tak hanya itu, bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah juga mendapatkan pendidikan gratis. “Alhamdulilah, doa-doa para santri insyallah memberikan keberkahan bagi kami, Fathan Mubina,” tuturnya.
Filosofi Fathan Mubina
Fathan Mubina diambil dari salah satu ayat di surat al-Fath. Sering orang betawi membaca itu dan memang nilai historisnya dan filosofinya sangat dalam. Karena Rasulullah kembali ke Makkah, semua Allah berikan kemudahan tanpa pertumpahan darah. Semua yang Allah berikan dalam Fathan Mubina adalah hasil dari sebuah proses yang dilaksanakan.
Selain karena terinpirasi surat Al-Fath. Juga merupakan sebuah doa, semua yang berkaitan dengan Fathan Mubina memberikan kemudahan seperti halnya Rasullullah mendapatkan kemudahan. [fathurroji]
Profil Data Pesantren
| Nama | Pondok Pesantren Fathan Mubina |
| No. Statistik Pontren (NSP) | 01.2.32.01.100.026 |
| Luas Lahan | 62.559 M2 terdiri dari:
· 2 Ha dengan status sertifikat hak milik · 4,2559 Ha dengan status akta jual beli · 2 Ha, status wakaf belum bersertifikat wakat |
| Tahun pendirian | 1986 |
| Mulai operasi | · Non Asrama : Tahun Ajaran 1986/1987
· Berasarama : Tahun Ajaran 2004/2005 |
| Tingkat Pendidikan | · Madrasah Ibtidaiyah
· Madrasah Tsanawiyah · Madrasah Aliyah & Pondok Pesantren Modern · Sekolah Menengah Pertama IT · Sekolah Menengah Atas Islam |
| Alamat | Jl. Veteran III ( Raya Tapos ) No. 23 A Ciawi Bogor, 16760 Telp. (0251) 245 291, 245 407 Fax. (0251) 244 327 |
- Data Pimpinan
| Pengasuh | H. Chairuman Kamal, Lc., M.A. |
| Pendidikan | · Program S1, Fakultas Syari’ah Islamiyyah, Universitas Al Azhar, Mesir
· Program S2, Kajian Islam, Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |

