Suasana religius dan penuh khidmat menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Attanwir Talun sejak pagi hingga malam hari, Kamis, 28 Mei 2026. Ribuan santri, alumni, dan peziarah tampak memadati area pesantren untuk mengikuti rangkaian Haul ke-34 Almaghfurlah KH Muhammad Sholeh dan para masyayikh Ponpes Attanwir Talun.
Kegiatan haul yang digelar setiap tahun tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar pesantren untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus mempererat silaturahmi antarsantri dan alumni dari berbagai daerah.
Sejak pagi, suasana di area pesarean atau makam pendiri pesantren terlihat ramai oleh jamaah yang datang silih berganti. Gelombang doa bersama terus berlangsung sepanjang hari, menciptakan atmosfer spiritual yang begitu terasa di lingkungan pesantren.
Puncak haul sendiri dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026 siang, dan diperkirakan akan dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah.
Ribuan Jamaah Padati Area Pesarean
Kompleks pesantren yang berada di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampak dipenuhi peziarah yang datang untuk mengikuti doa bersama dan ziarah makam.
Para santri terlihat memenuhi area maqbarah sejak pagi hari. Mereka bersama-sama melantunkan doa dan tahlil untuk Almaghfurlah KH Muhammad Sholeh serta para masyayikh pesantren yang telah berjasa dalam perkembangan pendidikan Islam di Attanwir Talun.
Kegiatan doa bersama kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengurus pesantren pada siang hingga sore hari.
Memasuki malam hari, suasana semakin ramai. Selepas salat Magrib, warga Desa Talun mulai berdatangan dan memadati kawasan pesarean. Arus kedatangan alumni dari berbagai kota juga terus meningkat hingga malam.
“Malam ini puncak ziarah dari santri dan alumni,” kata salah satu guru dan panitia Haul ke 34, Surono. Ujarnya Seperti Dilansir blokbojonegoro.com
Menurut panitia, malam menjelang puncak haul memang menjadi waktu favorit bagi para alumni untuk berziarah dan mengenang masa-masa mereka saat menimba ilmu di pesantren.
Tradisi Haul Jadi Momen Silaturahmi Alumni
Haul di lingkungan pesantren bukan sekadar kegiatan doa bersama. Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi ajang mempererat hubungan antarsantri, alumni, dan masyarakat sekitar.
Banyak alumni yang rela datang dari luar kota demi mengikuti haul dan berziarah ke makam para pendiri pesantren. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan melepas rindu dengan guru serta sahabat sesama alumni.
Salah satu alumni yang tampak hadir adalah Hadi Ihsan asal Jakarta. Pria yang akrab disapa Kang Hadi itu merupakan alumni Attanwir tahun 1995.
Ia terlihat ikut berdoa bersama di area pesarean bersama para alumni lainnya yang datang dari berbagai daerah.
Selain dari Jakarta, sejumlah alumni dari Semarang, Malang, Yogyakarta, dan kota lainnya juga mulai memadati kompleks pesantren sejak Kamis malam.
Kehadiran para alumni dari berbagai daerah menunjukkan kuatnya ikatan emosional yang tetap terjaga meski mereka telah lama meninggalkan pesantren.
KH Muhammad Sholeh Dikenang sebagai Tokoh Berpengaruh
Haul ke-34 ini digelar untuk mengenang jasa dan perjuangan Almaghfurlah KH Muhammad Sholeh yang dikenal sebagai pendiri dan tokoh penting dalam perkembangan Pondok Pesantren Attanwir Talun.
Semasa hidupnya, KH Muhammad Sholeh dikenal sebagai ulama kharismatik yang berperan besar dalam membangun pendidikan Islam di Bojonegoro dan sekitarnya.
Melalui pesantren yang didirikannya, banyak santri dari berbagai daerah memperoleh pendidikan agama dan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai Islam tradisional.
Karena itu, haul tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap beliau, tetapi juga momentum mengenang warisan keilmuan dan perjuangan yang telah ditinggalkan bagi generasi penerus.
Puluhan Ribu Jamaah Diperkirakan Hadir
Panitia memperkirakan jumlah jamaah akan terus meningkat menjelang puncak acara pada Jumat siang. Sejak malam hari, arus kedatangan peziarah dan alumni sudah terlihat cukup padat di kawasan pesantren.
Besok pagi hingga sore hari dipastikan puluhan ribu jamaah akan memadati kompleks Ponpes Attanwir Talun untuk mengikuti rangkaian doa bersama dan haul akbar.
Banyak jamaah datang dengan harapan mendapatkan keberkahan dari doa dan keteladanan para ulama pesantren.
Selain mengikuti doa bersama, sebagian peziarah juga memanfaatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan para kiai, pengurus pesantren, serta sesama alumni.
Kondisi tersebut membuat suasana haul terasa tidak hanya religius, tetapi juga hangat dan penuh kekeluargaan.
Pesantren Jadi Pusat Aktivitas Keagamaan
Momentum haul juga menunjukkan bagaimana pesantren tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi haul di pesantren masih terus dijaga karena dianggap memiliki nilai spiritual, budaya, dan sosial yang kuat.
Kegiatan seperti ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah perjuangan ulama sekaligus meneladani nilai-nilai keikhlasan, pengabdian, dan dakwah yang diwariskan para pendahulu.
Selain itu, haul turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar karena meningkatkan aktivitas sosial dan ekonomi selama acara berlangsung.
Nuansa Khidmat dan Kebersamaan
Hingga malam hari, suasana di kawasan Ponpes Attanwir Talun tetap dipenuhi jamaah yang datang silih berganti. Lantunan doa dan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari area maqbarah, menciptakan nuansa yang khidmat dan menenangkan.
Di sudut lain, para alumni tampak berbincang hangat sambil mengenang masa-masa belajar di pesantren. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu hal yang selalu dirindukan setiap kali haul digelar.
Tradisi haul di Ponpes Attanwir Talun pun bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum spiritual yang mempertemukan ribuan orang dalam satu ikatan keilmuan dan persaudaraan.
Dengan antusiasme jamaah yang terus berdatangan, puncak Haul ke-34 KH Muhammad Sholeh diperkirakan kembali menjadi salah satu kegiatan keagamaan besar yang penuh makna bagi keluarga besar Ponpes Attanwir Talun dan masyarakat luas.

